Selamat Datang di Website Romo Selamat Suwito
Selamat Datang dan Selamat Menikmati Blog Ini

Industri Kelapa Sawit (PKS)

Senin, 18 Maret 20130 komentar

 

Industri Kelapa Sawit (PKS)

Indonesia merupakan salah satu penghasil komoditas kelapa sawit terbesar di dunia. Kebutuhan buah kelapa sawit meningkat tajam seiring dengan meningkatnya kebutuhan CPO dunia, seperti yang terjadi beberapa bulan terahir ini.
Dengan meningkatnya harga minyak mentah dunia, menjadikan CPO sebagai pilihan untuk bahan baku pembuatan bio energi.
Peluang industri pengolahan kelapa sawit (PKS) masih sangat prospek untuk memenuhi pasar dalam dan luar negeri.
Dengan didukung tenaga ahli yang berpengalaman puluhan tahun di bidang industri pengolahan kelapa sawit, kami menawarkan Jasa Pembangunan Industri Pengolahan Kelapa Sawit (PKS) secara komprehensif (turn key) mulai konstruksi pabrik, mesin pengolahan sampai dengan instalasi pengolahan limbah.
- Produk yang dihasilkan : CPO
– Bahan Baku : Kelapa Sawit.
– Kapasitas Bahan Baku : mulai 1 ton/jam,5 ton/jam,30 ton/jam, 60 ton/jam, atau sesuai permintaan


Industri Kelapa Sawit



Gambar Alat dan Proses Pengolahan CPO (dari Kelapa Sawit Menjadi CPO)
KAPASITAS 30T/24 Jam
 1. Oil ExpellerPALM FRUIT STRIPPER
Mesin ini berfungsi memisahkan buah-buahan sawit dari tandan sawit. Pemisahan buah-buahan sawit dengan tangan membutuhkan tenaga yang sangat besar.Tetapi dengan bantuan mesin ini memisahkan buah sawit menjadi lebih mudah dengan proses mekanikal sederhana.
Alat ini terdiri dari suatu lempeng-lempeng melengkung yang disusun dengan jarak tertentu dan diikat satu sama lain membentuk suatu sangkar dan didalamnya terdapat tangkai-tangkai pemukul yang dipasang pada sumbu yang berputar.
Tandan dijatuhkan pada bagian ujung atas penebah dan dipukul turun sambil diputar oleh ujung tangkai pemukul hingga turun. Buah akan terpisah dan turun melalui lubang bawah pada sisi yang lain.
Mesin ini mampu merontokkan buah yang disterilisai sebaik yang belum disterilisai dengan sama efektifnya. Kapasitas stripper adalah 2-3 ton per jam. Sehingga satu mesin mampu melayani 2 expeller.
PALM FRUIT STRIPPER2. OIL EXPELLER dan KETEL PEMASAK
Buah sawit diumpankan ke dalam ketel pemasak yang menggunakan steam dari boiler sebagai sumber panas. Steam dialirkan melalui jaket tangki pemasak. Steam sebagian juga dimasukkan langsung ke dalam ketel pemasak sehingga buah sawit lunak dan semua selnya siap mengeluarkan minyak. Proses ini tidak membutuhkan sterilisasi terpisah, karena sudah dilakukan di ketel pemasak. Buah sawit yang telah dimasak diumpankan ke kotak pelumat yang berada di bawah ketel pemasak.
Tungkai expeller akan mendorong ke dalam ruang pelumat. Minyak yang keluar akan melalui celah dan jatuh ke bawah. Campuran biji sawit dan serat akan keluar dari samping. Kapasitas ekpeller adalah 400 kg buah per jam.PEMISAH SERAT dan BUAH SAWIT
 3. PEMISAH SERAT dan BUAH SAWIT
Campuran biji sawit dan sabut merupakan produk samping expeller. Pemisahan biji dari sabut menggunakan alat ini yang dioperasikan manual. Alat ini berupa silinder yang berupa saringan. Sabut akan menembus saringan dan jatuh ke bawah sedangkan biji akan keluar pada ujung silinder. Sabut digunakan sebagai bahan bakar boiler sedangkan biji dijual atau di pecah dan diambil minyak kernelnya.
Mengolah Tandan Kosong Kelapa Sawit Dengan Rotary Kiln RKE-2000L4. OIL CLARIFIER
Minyak sawit yang didapatkan dari expeller masih berupa minyak kental karena mengandung partikel padat yang berwujud seperti lumpur dan susah dipisahkan dari minyak. Berbagai metoda telah digunakan oleh banyak ilmuwan untuk memisahkan padatan dari minyak, tetapi cara yang paling efektif adalah menambahkan banyak air pada minyak. Penambahan ini akan memisahkan minyak bening ke atas dan air bersama kotoran ke bawah.
Alat berupa dua silinder, dengan satu silinder lebih kecil berada di dalam silinder yang lebih besar. Minyak dimasukkan kedalam silinder yang besar melalui bagian bawahnya. Minyak beningan akan naik ketas, seiring penambahan minyak ke dalam silinder besar. Minyak bening dari silinder besar selanjutnya mengisi silinder kecil dan dikeluarkan melaui bagian bawah silinder kecil. Minyak ini kemudian dipanaskan untuk mengurangi FILTER PRESSkadar air dan didapatkan CPO.
5. FILTER PRESS
Filter press berguna untuk menjernihkan minyak yang telah keluar dari Oil Clarifier. BOILERCPO akan dipompa melalui filter press dan menghasilkan minyak sawit bening.
6. BOILER
Boiler digunakan sebagai pembuat steam yang merupakan sumber panas untuk ketel pemasak. Boiler yang dibuat dapat menggunakan sabut sebagai bahan bakarnya sehingga dapat menghemat penggunaan Bahan bakar minyak.

Mengolah Tandan Kosong Kelapa Sawit Dengan Rotary Kiln RKE-2000L

Mengolah Tandan Kosong Kelapa Sawit Dengan Rotary Kiln RKE-2000L - Menurut data Lembaga Penelitian perkebunan, TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) adalah limbah pabrik kelapa sawit yang jumlahnya sangat melimpah. Setiap pengolahan 1 ton TBS (Tandan Buah Segar) akan dihasilkan TKKS sebanyak 22 – 23% TKKS atau sebanyak 220 – 230 kg TKKS. Besarnya potensi TKKS sebagai bahan organik bagi perbaikan tanah pertanian, diperlukan alat teknologi bagi pemanfaatannya, antara lain dengan alat mesin Rotary Kiln.

Biophosko® Tipe Rotary Motor RKE-2000L ini berdimensi (Tinggi= 290 cm, Diameter= 255 cm dan Panjang= 300 cm) terbuat dari bahan fiber resin, peralatan aerasi, elektromotor 7 PK, dan As. Alat Mesin Tipe Rotary Motor ini akan merupakan solusi akan masalah sampah pertanian ( kotoran hewan, tandan kosong kelapa sawit / TKKS, janjang sawit kosong, material sisa panen, jerami, dll) maupun masalah yang ditimbulkan dari sampah dapur ( rumah tangga, restoran, hotel) serta sampah domestik dari lingkungan komplek perumahan ( Real Estate), taman kota dan area publik area lainnya.

Kategori sampah organik ( foodwaste) atau yang bisa diurai ( terdegradasi) meliputi antara lain : sisa makanan, kertas, sisa ikan dan duri ikan, kulit buah-buahan, potongan sayuran, dll. Jadi bahan organik dapat juga diartikan semua material yang berasal dari makhluk hidup meliputi hewan, manusia dan tumbuhan.

Merubah sampah organik menjadi sesuatu produk baru - dan bermanfaat seperti kompos dan pupuk cair, akan berguna dalam memelihara kesuburan tanah, menambah lapisan humus tanah, mengikat tanah berderai dan sebagai pasokan hara atau nutrisi bagi tanaman. Kompos akan berguna bagi semua tanaman di sekitar lingkungan sendiri seperti taman di perumahan, taman lingkungan hotel, restoran, dan lingkungan RW. Kompos dapat juga dijual ke petani, atau konsinyasi ke pedagang tanaman hias sepanjang jalan di perkotaan, dijual ke pemilik taman, kepada kalangan hobies tanaman dan bunga serta kepada para pengusaha perkebunan.

Sederhana dan mudah dalam pengaplikasiannya, tinggal siapkan sampah organik sebanyak 6 m³ atau setara dengan berat 2 ton. Sampah harus dicacah untuk dibuat ukuran kecil-kecil (sekitar 10-15 mm) dengan cara dirajang atau menggunakan alat pencacah (choper) menjadi seukuran dengan sampah dapur ( rumah tangga, hotel dan restoran) yakni 15 - 50 mm. Sampah yang berasal dari lingkungan pemukiman, hotel dan rumah tangga memang pada umumnya sudah berukuran kecil, sehingga sebenarnya tidak memerlukan keberadaan mesin pencacah (chopper). Lain halnya sampah pertanian seperti TKKS- yang lebih khusus bagi bahan organik yang liat ( kandungan selulosa dan lignin) dan sehingga memerlukan mesin pencacah ( Crusher) guna memperkecil ukurannya.

Penggunaan alat mesin ini dalam menyelesaikan masalah limbah pabrik Kelapa sawit (PKS) atau menangani Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) atau janjang sawit ( Jankos) diharapkan memberikan nilai tambah dan utilitas dari segi waktu, biaya, keperluan luas lahan dan tenaga kerja. Penggunaan Rotary Kiln akan mengatasi pengomposan tradisional yang selama ini menjadi kendala PKS dalam memanfaatkan bahan organik ini menjadi pupuk kompos. Rotary Kiln ini akan mengatasi kendala waktu pengomposan ( dari 6 bulan menjadi 15 hari), fasilitas yang harus disediakan cukup murah dan terjangkau (affordable) serta penghematan biaya pengolahan TKKS karena tidak perlu membalik, mengadakan dan menutup dengan terpal. Sebagaimana diketahui, dengan cara konvensional, dekomposisi TKKS menjadi kompos dapat berlangsung dalam waktu 6 bulan bahkan 1 tahun. Lamanya waktu ini berimplikasi pada luas lokasi, tenaga kerja, dan fasilitas yang diperlukan untuk mengomposkan TKKS tersebut, padahal dari tiap pengolahan 1 ton TBS (Tandan Buah Segar) akan dihasilkan TKKS sebanyak 22 – 23% TKKS atau sebanyak 220 – 230 kg TKKS.

caranya praktis, bahan organik berupa sampah makanan ( foodwaste), janjang kosong sawit ( jankos) yang telah dicacah khusus, sisa panen sayuran, sampah dapur ( hotel, restoran, rumah makan, pasar) kemudian dimasukan ke dalam Komposter (Rotary Klin) melalui pintu kearah reaktor. Di tempat lain, siapkan larutan mikroba sebagai aktivator dekomposisi- Green Phoskko® sebanyak 2 kg ( 1 permil dari bahan sampah sekitar 2 ton bahan baku kompos berupa sampah organik), juga tambahkan Molases ( tetes tebu) atau gula pasir sekitar 50 sendok makan dan larutkan dalam air sebanyak 250 liter. Aduk hingga merata dan simpan 2-4 jam agar organic decomposer green phoskko ini terlarut secara merata dan bakteri didalamnya menjadi aktif dari tidur ( dorman).

Setelah diperkirakan terlarut, siramkan larutan Green Phoskko® decomposer - Activator Kompos- keatas tumpukan sampah organik dalam reaktor komposter. Kemudian campurkan penggembur (bulking agent) Green Phoskko® sebanyak 120 kg ( 3 persen % dari bahan sampah) dan hidupkan engine penggerak rotary yang tersedia- selama 15 menit akan mati dengan adanya timer otomatis.

Penggunaan motor rotary dari penggerak engine cukup selama 15 menit/sekali sebanyak 5 kali per hari. Dengan berputarnya drum akan membalikan dan meratakan pencampuran semua bahan sampah didalamnya. Disamping itu, fungsi pembalikan agar terjadi agar menaikan homogenitas aneka bahan serta meningkatnya aerasi yakni bertambahnya oksigen kedalam rongga bahan kompos. Setelah 1 - 2 hari kemudian akan terjadi reaksi berupa panas, jika bagian dalam reaktor drum diukur menggunakan thermometer akan berada pada kisaran temperatur 30 sampai 50 derajat celcius. Suhu 50 derajat celcius suatu kondisi suhu mesofilik - yang baik bagi bekerjanya konsorsium mikroba (bakteri aktinomycetes- spesies aktinomyces naeslundii, Lactobacillus spesies delbrueckii, Bacillus Brevis, Saccharomyces Cerevisiae, ragi, dan jamur serta Cellulolytic Bacillus Sp).

Hingga hari ke 3 sampai ke 5, reaksi dekomposisi tersebut umumnya akan terjadi kenaikan suhu dengan tanda-tanda dalam drum panas (hingga 70 derajat Celcius) serta keluarnya sedikit uap, dan lakukan lagi penggembosan udara dengan cara menghidupkan motor aerator ( exhaust fan) setiap kali dianggap memerlukan asupan oksigen atau suhu diatas 55 derajat celcius.

Pada hari ke 5 sampai ke 7 jika diukur suhunya sudah dibawah 30 derajat C atau dianggap sudah dingin dan suhu normal, keluarkan bahan kompos dari dalam komposter dan simpan di tempat teduh serta tutup dengan karung kemasan (PE) hitam untuk diangin-anginkan, dapat juga dimasukan dalam karung PE atau Goni dan ditumpuk di tempat yang teduh. Sekitar 7 hari kemudian sejak pengolahan kedalam reaktor drum, bahan kompos akan kering dan gembur. Ayak hingga terpisahkan antara butir lolos mess 100 dengan bahan ukuran besar. Gundukan butiran kecil masukan kedalam kemasan sesuai yang direncanakan.

Komposter Tipe Rotary Motor Bio Phoskko RKE-2000L dioperasikan secara komersil pada Instalasi Pengolahan Kompos Kota (IPKK), bisa berada di kawasan dekat Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS), pasar induk, lingkungan perumahan atau kelurahan. Type Rotary Motor ini bisa juga dipindah sesuai keperluan (mobile). Suatu IPKK dengan alat mesin Komposter Tipe Rotary Motor ini akan memberi pendapatan bagi siapapun yang ingin memanfaatkan sampah kota sebagai suatu bisnis- di sekitar tempat tinggalnya seperti pensiunan, perusahaan, hotel, restaurant, koperasi karyawan, koperasi pasar, pengusaha UKM dan siapapun yang berminat melakukan usaha kompos dengan memanfaatkan sampah kota khususnya.

Petugas pengelola dibutuhkan cukup 1 (satu) orang untuk memproses bahan, monitoring suhu, mengelola On/Off engine penggerak guna membalik bahan dalam komposter, mengayak serta mengemas kompos. Membuat kompos menggunakan Tipe Rotary Motor Bio Phoskko RKE-2000L ini akan memerlukan biaya 60 kg mineral (bulking agent) Phoskko B @ Rp 5000,-/kg ( Rp 300.000,-) dan 2 kg aktivator kompos Phoskko A @ Rp 220.000,- / kg atau total biaya sekitar Rp 520.000,-/batch proses produksi.

Keluaran biaya ( cost) sebesar diatas itu, akan menghasilkan output berupa 40 % kompos padat dari berat bahan sampah organik atau semula 2 ton sampah, akan menjadi sekitar 800 kg kompos padat. Disamping hasil kompos padat, terdapat 100 botol @ 500 ml pupuk kompos organik cair (liquid organic fertilizer) - yang jika dinilai semua output dari pengolahan 2 ton bahan sampah adalah Rp 2.800.000,-/batch proses produksi.

Sebagaimana diketahui, harga kompos generik ( tanpa merk) bermutu Rp 1000,-/kg ditambah harga pupuk organik cair Rp 20.000,-/ botol.

Tambahan pendapatan akan diperoleh dengan mengolah sampah lingkungan sekitar perumahan - yang bermukim masyarakat berpendapatan tinggi. Jasa pengelolaan sampah IPKK dalam lingkungan akan memberi pendapatan tambahan berupa "retribusi" kebersihan - yang umum dikumpulkan oleh Rukun Warga (RW) maupun developer. Dengan kapasitas Rotary Klin 6 m3/ sekali proses akan mampu mengolah sampah dari sekitar 750 sampai 1000 rumah hari-Indonesia. Maka jika direncanakan mengelola 1000 rumah ( rata-rata banyak rumah suatu real estate atau perumahan) secara berkesinambungan setiap hari, akan diperlukan sedikitnya 5 unit komposter Rotary Tipe Rotary Motor Biophoskko RKE-2000L ini*)






PENDAHULUAN


Dalam mengelola kelapa sawit, tujuan pekebun adalah membangun kebun kelapa sawit dengan tanaman produktif yang seragam di setiap blok tanaman, menggunakan jumlah bibit yang efisien, masa TBM yang singkat, dengan sedikit mungkin melakukan perbaikan infrastruktur, kondisi drainase, maupun tanaman di lapangan setelah kegiatan penanaman selesai. Pembangunan kebun kelapa sawit dapat dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama meliputi seluruh kegiatan yang diperlukan dari awal hingga penanaman tanaman di lapangan, sedangkan tahap kedua mencakup pemeliharaan hingga tanaman mulai menghasilkan. Kedua tahap ini sangat berbeda dalam hal kegiatan di lapangan maupun teknik pengelolaan yang diperlukan untuk memperoleh hasil seefisien mungkin dengan kualitas yang baik.
Selama tahap pertama diperlukan perencanaan yang cermat dan inovatif oleh pihak manajemen. Kegiatan harus disusun secara teratur, dimulai dari pengurusan ijin pembukaan lahan, pemesanan kecambah, pembukaan lahan hingga penanaman. Namun demikian inisiatif manajemen sangat diperlukan untuk selalu menyesuaikan rencana dengan perubahan keadaan yang mungkin terjadi di lapangan. Sebagai contoh, penanaman perlu ditunda jika terjadi musim kemarau yang panjang dan sebagai gantinya secara cepat dapat dilakukan kegiatan pembangunan jaringan drainase dengan mengerahkan alat-alat berat.
Jika pembukaan lahan dan penanaman telah dilakukan dengan tepat, selanjutnya perlu dilakukan kegiatan tahap kedua secara rutin yang meliputi pemeliharaan (pengendalian gulma dan pemupukan). Namun demikian, kegiatan rutin tahap kedua hanya dapat dilakukan dengan baik jika kegiatan tahap pertama dilakukan dengan tepat dan sistematis. Dalam beberapa hal, manajer harus meluangkan waktu untuk membereskan masalah-masalah kecil di arealnya, misalnya:
a) jalur tanaman yang tumbuh tertekan akibat ‘transplanting shock’.
b) pertumbuhan tanaman penutup tanah yang terhambat akibat pemupukan yang tidak merata.
c) drainase yang buruk di setiap bagian blok.
d) jalur tanaman yang terlantar di sekitar parit atau sungai.
e) pemeliharaan yang tidak sempurna akibat areal yang sulit dilalui.
f) areal kosong (hiaten) di sepanjang parit. Manajer yang baik akan menghabiskan sebagian waktunya di lapangan, memeriksa setiap kegiatan dengan cermat dan membantu stafnya memecahkan masalah di lapangan. Manajer tidak akan mengorbankan produktivitas tanaman di masa mendatang hanya karena pertimbangan biaya. Perhatian yang cermat terhadap kondisi tanaman dan lahan perlu disampaikan kepada staf lapangan.
Saat ini, sebagian besar penanaman baru dilakukan pada lahan bekas semak belukar. Tanah kemungkinan telah mengalami kerusakan akibat penurunan kadar hara (sistem pertanian tebang-bakar) dan pemadatan tanah (penebangan kayu).

TAHAP I PEMBANGUNAN KEBUN
Selama pembabatan lahan sampai penanaman, manajer kebun mengerjakan seluruh areal dengan perlakuan yang sama. Areal yang telah ditanami dibagi menjadi beberapa unit untuk pengelolaan dan pemeliharaan selanjutnya (lihat Tahap II). Berbagai peluang dapat dilakukan oleh manajer kebun untuk meningkatkan efisiensi dan keberhasilan pembangunan kebun, seperti:
1.Umur bibit berada dalam kondisi yang sesuai pada saat pemancangan selesai  dilakukan.
2.Hindari pemakaian alat berat pada waktu yang bersamaan selama pembukaan lahan,
pembangunan drainase, dan pembangunan jalan dengan cara mengatur urutan kegiatan.
3.Rencanakan pelaksanaan beberapa kegiatan secara bersamaan, misalnya penanaman
dimulai sementara persiapan lahan terus dilakukan.
Persiapan pembibitan
Penamanan pembibitan
Pengelolaan pembibitan
Pengafkiran
Survei
Jalan dan drainase
Persiapan areal
Penanaman LCP
Pemancangan
Penyisipan tanaman
Pengelolaan lapangan
Persiapan sebelum panen
Panen awal
Penanaman
Rencana yang sederhana sangat membantu pelaksanaan kegiatan sesuai dengan jadwal. Dengan perencanaan
yang cermat, sangat mungkin tanaman dapat mulai dipanen 40 bulan setelah kecambah ditanam di pembibitan!
Kegiatan pembibitan ditunjukkan oleh warna biru, tahap pertama dalam warna coklat, sedangkan tahap kedua
ditunjukkan dengan warna hijau.
Kelapa Sawit – Tanaman Belum Menghasilkan 3
TUJUAN
Mengidentifikasi batas areal kebun, memberi tanda garis dasar pancang kepala pada peta dasar, dan menandai letak jalan utama (U) dan produksi (P). Mempersiapkan peta kebun yang akurat, yang menunjukkan batas pertanaman, sistem drainase, dan topografi areal.
STANDAR
Survei harus dilakukan dengan metode yangtepat dan semua data harus diperiksadengan cermat. Keberhasilan pengelolaankegiatan di masa mendatang sangattergantung pada keakuratan survei danpengukuran lapangan.
Peta harus dilengkapi dengan skala(misalnya 1 : 5.000) dan mencakup semua kondisi lapangan yang penting, seperti sungai, areal rendahan, bukit, dan areal yang tidak perlu ditanami. Arah mata angin, misalnya utara harus ditandai dengan jelas.
PERALATAN
Theodolit atau alat pengukur kemiringan areal, meteran 100 m, dan kompas.
Mesin pemotong (chainsaw dan alat pemeliharaannya) atau parang untuk membersihkan rintisan, pancang, dan palu. GPS dan alat elektronik lainnya.
BAHAN
Bahan bakar untuk chainsaw. Persediaan pancang (ukuran 20 mm x 20 mm), cat warna putih dan merah (pancang titik tanam), cat warna biru (pancang jalan dan saluran drainase). Kertas grafik (2,5 mm persegi) dan kertas isometrik A3 untuk membuat peta. Tinta dan bolpoin khusus untuk membuat peta (RotringTM).
PROSEDUR
Informasi rinci tentang survei, lihat ‘Perkins, R.B. (1982) Estate Surveying. The Incorporated Society of Planters. Kuala Lumpur. 208 p.
Peta kebun memberikan informasi penting untuk perencanaan dan monitoring pekerjaan lapangan. Idealnya, peta GIS disiapkan dengan menggunakan data loggers dan satelit positioning system.

1. Peninjauan lapangan
Manajer lapangan harus melihat lokasi bersama surveyor dan staf lainnya untuk
lebih mengenal kondisi lahan dan titik-titik penting seperti areal rendahan, bukit, dan lain-lain. Tentukan tanda-tanda batas (jika tersedia) dengan menggunakan peta survei yang disusun oleh instansi pemerintah maupun titik-titik referensi yang telah diketahui. Pasang tanda-tanda lapangan dengan menggunakan beton permanen sebelum memulai kegiatan lapangan. Periksa ulang batas areal dengan tokoh masyarakat setempat dan petugas pemerintahan untuk menghindari kesalah-pahaman yang mungkin timbul selama pembangunan kebun. Pemeriksanaan lokasi dari udara akan menyediakan gambaran yang baik dan membantu mengindentifikasi masalah di lapangan. Siapkan sketsa peta dan lakukan pemotretan selama penerbangan.

2. Penjelajahan awal
Tim survei awal membuat jalur rintisan pada areal secara paralel dengan sistem grid berinterval sekitar 1.000 m. Jarak antar rintisan (grid) tersebut harus dikurangi jika diperlukan adanya informasi tambahan (misalnya pada areal rawa, interval rintisan dikurangi menjadi 100 m x 100 m untuk mengidentifikasi masalah secara lebih jelas). Pertimbangkan jaringan jalan yang akan dibangun selama penentuan jalur rintisan untuk menghindari duplikasi pekerjaan. Tim survei melakukan pengamatan secara sistematis berdasarkan sistem grid tersebut.
Ahli tanah mengidentifikasi jenis tanah, memeriksa sistem drainase, dan mengidentifikasi masalah yang mungkin timbul. Contoh air dan tanah diambil sambil melakukan pengamatan lapangan, sedangkan lokasi contoh tersebut dicatat dan dipetakan. Titik pengambilan contoh biasanya terletak pada titik temu garis-garis grid yang ditentukan berdasarkan sistem referensi. Cara terbaik adalah dengan membuat garis timur – barat secara alfabetik dan garis utara – selatan secara numerik untuk menyediakan referensi alfanumerik untuk setiap
titik (misalnya J34). Sistem referensi grid ditandai pada grafik berukuran 2,5 mm persegi atau diplot pada kertas komputer jika GPS telah digunakan. Manajer lapangan harus sering memeriksa peta awal untuk melihat kesalahan dan untuk mengenal kondisi yang mungkin akan berpengaruh terhadap pembangunan kebun di masa mendatang. GPS merupakan alat yang sangat bermanfaat untuk kegiatan awal survei dan pemetaan secara akurat dan untuk membuat peta kebun. Oleh sebab itu perlu adanya surveyor yang terlatih untuk menggunakan GPS. Peralatan yang lebih canggih seperti ‘electronic range finder’, ‘altimeter’, dan ‘direction finder’ juga mulai digunakan untuk pembangunan kebun. Jika mungkin, alat yang lebih canggih seperti ‘ortho-corrected aerial photograph’ seharusnya digunakan. Pemeliharaan dan koreksi terhadap peta dasar kebun yang berisi seluruh informasi penting hendaknya dilakukan secara rutin. Survei menyeluruh perlu dilakukan oleh pekebun, ahli tanah, dan ahli drainase yang berpengalaman untuk menentukan hal-hal yang dibutuhkan dalam kegiatan
penyiapan lahan. Kelapa Sawit – Tanaman Belum Menghasilkan 5

3. Survei dasar
Pelaksanaan survei awal pada areal baru biasanya dilakukan oleh surveyor atau kontraktor yang telah dikenal, khususnya jika survei tersebut menggunakan teknologi satelit. Jika terdapat keraguan tentang batas lokasi, agar dicari bantuan dari petugas survei pemerintah daerah.
Prosedur survei dasar yang digunakan adalah:
1.Bersihkan jalur sepanjang batas areal.
2.Pasang beton permanen (2 m x 10 cm x 10 cm) pada semua tanda-tanda penting di lapangan dan tandai tanda tersebut pada peta kebun. Jangan menggunakan aliran air, sungai, atau pohon sebagai titik referensi permanen.
a) Areal datar
Kerapatan tanam ditentukan sebelum pelaksanaan survei dan digunakan sebagai pertimbangan dalam penentuan jaringan jalan. Jalan blok (sub-main road) dibangun tegak lurus terhadap jalan utama dengan interval sekitar 1.000 m. Jalan produksi dihubungkan dengan jalan blok dengan interval yang disesuaikan dengan kemampuan angkut pemanen atau alat angkut lainnya (jika menggunakan alat angkut mesin atau ternak). Ukuran blok tanaman yang umum adalah lebar 300–330 m dan panjang 1.000 m, dengan lebar jalan 10 m (antar parit di kiri–kanan jalan). Dengan demikian akan diperoleh blok tanaman dengan luas 30–33 ha dan panjang jalan 40–50 m/ha.
b) Areal berbukit
Pada areal berbukit, pada mulanya semua jalan direncanakan sesuai dengan kerapatan tanaman sebagaimana pada areal datar. Letak setiap jalan kemudian disesuaikan dengan kondisi lapangan (misalnya adanya batuan terjal) dengan menggunakan peta kontur, maka pada areal terjal dilakukan pengaturan hingga kemiringan jalan tidak melebihi 10%. Pada areal berlereng, jalan harus dibuat memotong teras/lereng dengan interval disesuaikan dengan kemampuan pemanen bekerja di sepanjang teras.
c) Areal rawa
Pada areal rawa yang memerlukan drainase (misalnya tanah gambut atau tanah pasang
surut di pantai), pengukur tinggi tempat harus dibawa untuk identifikasi areal-areal yang Rencana mekanisasi di masa depan sebaiknya dipertimbangkan pada waktu merancang tata letak kebun. saluran drainasenya kemungkinan sulit dibuat. Pada areal tersebut, titik-titik lokasi pembangunan pintu air harus ditentukan pada saat survei pendahuluan.
d) Penyelesaian survei
Berdasarkan sketsa kerja yang diperoleh, peta kebun disusun yang terutama berisi saluran drainase primer, jalan, dan perkiraan ukuran setiap blok. Jika terjadi perselisihan mengenahi batas kebun, agar dilakukan koordinasi dengan pemerintah daerah. Setelah tanam, survei isometrik dilakukan terhadap seluruh areal yang ditanami sebagai dasar menghitung total areal tertanami di setiap blok (misalnya total titik tanam ÷ kerapatan tanam = luas areal tertanami. Lihat Lampiran A8). Dengan penggunaan teknologi GPS, dapat dibuat peta kebun yang secara akurat menunjukkan luas dan batas areal. Selain itu dengan teknik overlay, pada peta dasar dapat ditambahkan informasi tentang drainase, jalan, dan titik referensi lainnya sehingga dihasilkan sistem informasi geografi (GIS). Kemudian, peta digital dapat dihubungkan dengan data dasar yang berisi data agronomis yang sesuai untuk menghasilkan peta yang menunjukkan informasi kultur teknis tertentu. Lihat Lampiran A9. Manajer kebun, manajer pembibitan, dan asisten kebun perlu memeriksa peta kebun yang telah lengkap selama peninjauan lapangan sehingga persiapan lahan dan penamaan dapat direncanakan dan dikoordinasikan dengan tepat. Penyesuaian dan permintaan survei ulang seharusnya dilakukan pada tahap ini. Pada tahap ini umumnya sesuai untuk pelaksanaan survei tanah. Informasi rinci tentang survei tanah di Asia Tenggara, baca: Paramathan, S. (1987). Field Legend for Soil Surveys in Malaysia. Universiti Pertanian,
Malaysia. 92p.
Buringh, P. (1979). Introduction to the Study of Soils in Tropical and Subtropical Regions.
Centre for Agricultural Publishing and Documentation. Wageningen. 124p.
Toposekuen jenis tanah yang diamati pada saluran baru. Manajer lapangan harus dapat memanfaatkan setiap kesempatan untuk meningkatkan pengetahuannya tentang sumber daya alam di kebunnya. Kelapa Sawit – Tanaman Belum Menghasilkan 7
FREKUENSI
Kegiatan survei utama dan pemetaan selalu dilakukan sebelum pelaksanaan penanaman. Survei ulang mungkin diperlukan pada areal replanting. Peta kebun perlu diperbarui setelah penanaman ulang.
WAKTU
Survei harus diselesaikan paling lambat tiga bulan sebelum pemancangan dimulai.‘Overlays’ (tumpang susun) skema tanam, jalan, dan drainase harus diselesaikan dua minggusebelum pemancangan dimulai.
NORMA
Norma (hk/ha) ✔✔ Survei pendahuluan 0,04 0,02 0,01 Survei penuh 0,05 0,03 0,02
ARSIP
Peta sketsa lapangan harus dibuat dan secara teratur diperbarui setiap mendapat data baru, sehingga diperoleh model dinamis dari kondisi lapangan.
Data digital yang terekam dalam GPS harus disimpan untuk referensi di masa mendatang.
LINGKUNGAN
Analisa dampak lingkungan secara penuh harus menjadi satu kesatuan dengan studi kelayakan untuk penanaman baru maupun replanting. Jangan menanami areal yang tidak layak, seperti areal terjal atau areal rawa yang sulit didrainase.
Hindari kontaminasi aliran air dengan minyak atau pelumas.
KESELAMATAN
Parang babat merupakan alat potong yang tajam sehingga perlu digunakan dan dirawat secara hati-hati. Operator ‘chainsaw’ harus dilatih dengan baik dalam menggunakan mesin tersebut.
CATATAN
Lihat Bab 102.0 dan 103.0 untuk informasi rinci tentang jalan dan drainase.
Dua aturan umum:
‘Sesuaikan penanaman dengan kondisi lereng, bukan sebaliknya menyesuaikan lereng untuk penanaman.’‘Sesuaikan jaringan jalan dengan titik tanam, bukan sebaliknya menyesuaikan titik tan

Toposekuen jenis tanah yang diamati pada saluran baru. Manajer lapangan harus dapat memanfaatkan setiap kesempatan untuk meningkatkan  pengetahuannya tentang sumber daya alam di kebunnya

             

Rencana mekanisasi di masa depan sebaiknya dipertimbangkan pada waktu merancang tata letak kebun
              

Survei menyeluruh perlu dilakukan oleh pekebun, ahli tanah, dan ahli drainase yang berpengalaman untuk menentukan hal-hal yang dibutuhkan dalam kegiatan
penyiapan lahan.


Peta kebun memberikan informasi penting untuk perencanaan dan monitoring pekerjaan lapangan. Idealnya, peta GIS disiapkan dengan menggunakan data loggers dan satelit positioning system.

Saat ini, sebagian besar penanaman baru dilakukan pada lahan bekas semak belukar. Tanah kemungkinan telah mengalami kerusakan akibat penurunan kadar hara (sistem pertanian tebang-bakar) dan pemadatan tanah (penebangan kayu).
Ekspor minyak kelapa 320 x 240 - 34k 
Anda punya Pabrik
2048 x 1536 - 169k 
Menguraikan
729 x 483 - 42k - 
Unit pengolahan
320 x 197 - 138k 
pabrik sawit
500 x 369 - 152k 
Shop Drawings Pabrik 350 x 224 - 76k 
pengolahan/pabrik
1656 x 1242 - 193k 
Mesin Pabrik Kelapa 456 x 456 - 40k

di pabrik kelapa
448 x 298 - 44k 
Pabrik Pengolah
500 x 480 - 60k 
limbah pabrik kelapa 640 x 547 - 67k 
Tempurung kelapa
595 x 573 - 77k  
Pabrik Kelapa
400 x 309 - 22k 
Mesin Pabrik Kelapa 180 x 127 - 4k 
pabrik kelapa
400 x 300 - 33k 
di pabrik kelapa
899 x 521 - 27k 
cair pabrik kelapa
577 x 337 - 28k 
HOUSE,PABRIK KELAPA 1059 x 627 - 93k 
PABRIK KELAPA
480 x 250 - 14k 
Shop Drawings
Pabrik 150 x 150
– 8k 
































Silahkan share artikel ini : :
 
Web ini dikembangkan oleh PUSAT MULTIMEDIA
Template Created by Creating Website Modify by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger